Berikut ini adalah
Asuhan
Keperawatan atau Askep Parkinson dari berbagai sumber yang dirangkum secara
singkat dan tetap informatif.
A. Pengertian Parkinson
Parkinson adalah gangguan saraf
yang menyerang pusat kontrol gerakan tubuh. Karena fungsi gerak tubuh
terganggu, maka penderita Parkinson akan merasakan kesulitan dalam menggerakkan
anggota badannya, gerakannya pun cenderung lambat, terkadang mengalami tremor,
dan otot-ototnya kaku.
Parkinson sering digolongkan ke
dalam penyakit degeneratif yang biasa dialami oleh seseorang yang sudah lanjut
usia. Umumnya, Parkinson ditemui pada orang tua yang berusia 60 tahun ke atas
karena pada usia tersebut, sel-sel maupun zat-zat yang dibutuhkan oleh sistem
saraf sudah mengalami penurunan kinerja akibat penuaan.
B. Etiologi Parkinson
Penyebab Parkinson
bermacam-macam, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
- Penurunan produksi dopamin
(neurotransmitter yang penting di dalam sistem saraf)
- Infeksi virus yang dapat merusak
pusat kendali yang berada di otak, tepatnya pada daerah substantia nigra
- Paparan pestisida, logam, atau
gas beracun di lingkungan sekitar atau di lokasi industri, di mana tubuh terpapar
zat-zat tersebut dalam jumlah yang cukup banyak dan selama kurun waktu yang
lama
- Obat-obatan yang menghambat
aliran dopamin, seperti obat paranoid dan skizofrenia.
- Cedera kepala yang terjadi
berkali-kali di masa lampau dan menyebabkan trauma kapitis
C. Patologi Parkinson
Pada saat otak memerintahkan
anggota badan untuk bergerak (misalkan menggerakkan tangan), maka sel-sel saraf
yang berada dalam ganglia basalis (di dalam otak) akan menerjemahkan perintah
atau sinyal tersebut dan mengirimkannya ke organ target (dalam kasus ini adalah
tangan) sehingga menghasilkan gerak tubuh yang diinginkan.
Untuk mengantarkan sinyal yang
berbentuk impuls listrik itu agar dapat melewati sel dan saluran saraf hingga
akhirnya sampai ke organ target, dibutuhkan bahan kimia yang disebut dengan
neurotransmitter. Dopamin adalah salah satu neurotransmitter dalam sistem saraf
yang berlokasi di dalam ganglia basalis.
Pada kasus Parkinson, sel-sel
dalam ganglia basalis mengalami penurunan kinerja. Hal ini menyebabkan
penurunan produksi dopamin, sehingga jumlah dopamin berada di bawah batas
standar tubuh. Pada saat itulah pengiriman impuls listrik antar sel saraf
menjadi terhambat dan berujung pada kesulitan dalam melakukan gerak tubuh.
Parkinson yang disebabkan oleh penurunan jumlah dopamin ini disebut Parkinson
primer.
Sedangkan Parkinson sekunder
disebabkan oleh faktor-faktor yang menghalangi aliran dopamin, meskipun tubuh
memiliki jumlah dopamin yang cukup. Beberapa faktor penghambat kinerja dopamin
tersebut adalah obat-obatan anti paranoid dan skizofrenia.
D. Manifestasi Klinis Parkinson
Tanda-tanda atau gejala Parkinson
yang umumnya ditemui adalah sebagai berikut:
- Mudah merasa lelah, lemah di
bagian otot sekalipun baru melakukan aktivitas yang ringan, seperti berbicara,
mengunyah, atau menyisir rambut
- Lemah otot juga menyerang bagian
otot mata, menyebabkan diplopia (pandangan ganda) dan ptosis (kelopak mata
jatuh seperti mengantuk)
- Jika lemah otot menyerang bagian
laring, menyebabkan disfonia yaitu gangguan pada produksi suara, kemudian juga
mengakibatkan lemahnya otot untuk mengunyah dan menelan
- Otot lengan dan kaki yang lemah
menyebabkan kesulitan dalam berdiri dan berjalan. Jika dapat berjalan pun
jalannya akan lambat sekali. Bahkan bisa sampai terjatuh.
- Kesulitan bernafas karena otot
pernafasan juga terpengaruh Parkinson
- Tremor yang sering &
tiba-tiba menghasilkan pergerakan yang tidak terkontrol
- Depresi, dimensia, takut, dan
lambat dalam berpikir
- Sulit tidur, pada saat tidur
wajah kaku dan datar seperti topeng
E. Pemeriksaan Parkinson
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan
dengan memperhatikan apakah ada kelainan dalam pertumbuhan tulang khususnya
tulang anggota gerak dan tulang belakang, pemeriksaan elastisitas sendi,
kontraksi dan kordinasi otot, dan cara berjalan.
Pemeriksaan lebih lanjut
dilakukan melalui EEG (Elektro Ensefalografi) yang mengukur aktivitas elektrik
otak pada periode tertentu, CT Scan untuk melihat apakah terdapat atropi
kortikal difus atau hidrosefalus eks vakuo, pengkajian neuropatologi dan
neuropsikotik, serta MRI.
F. Penatalaksanaan Kasus Parkinson
Penatalaksanaan yang dilakukan
untuk meredakan parkinson dapat ditempuh melalui penatalaksanaan medis maupun
non-medis:
Penatalaksanaan Medis
- Antikolinergik: contohnya benzotropin
dan artane. Obat ini efektif untuk menghaluskan gerakan penderita Parkinson.
- Carbidopa dan Levodopa: ini
adalah pengobatan utama pada Parkinson. Levodopa yang masuk ke otak akan
berubah menjadi dopamin. Efek dari Levodopa mampu mengurangi tremor dan kaku
pada otot. Pada kasus Parkinson ringan, penggunaan Levodopa memungkinkan penderita
untuk mampu melakukan aktivitas normalnya kembali. Levodopa dikombinasikan
dengan Carbidopa untuk meningkatkan kinerjanya dan mengurangi potensi efek sampingnya.
- COMT Inhibitor: contohnya Entacapone
dan Tolcapone yang digunakan untuk mengontrol fungsi motorik pasien dengan
terapi Levodopa.
- Agonis Dopamin: contohnya
Bromokriptin, Pramipexol, dan Kabergolin yang mampu merangsang reseptor dopamin.
- MAO-B Inhibitor: contohnya
Selegiline dam Rasagiline yang mampu mencegah perusakan dopamin oleh neuron dopaminergic.
Selain itu, efeknya mampu menghaluskan gerakan penderita Parkinson, seperti
efek dari antikolinergik.
Penatalaksanaan Non-Medis
Parkinson dapat diredakan dengan
terapi fisik yang bisa dilakukan di klinik maupun di rumah sendiri dengan
instruksi yang dapat diikuti. Terapi ini bersifat jangka panjang dan jenis
terapinya disesuaikan dengan keparahan masing-masing penderita. Caranya adalah
dengan melatih aktivitas fisik seperti mengangkat barang, berjalan, berbicara,
dsb. Yoga dan taichi dapat digunakan juga pada terapi ini karena dapat
meningkatkan fleksibilitas dan keseimbangan tubuh.
G. Fokus Pengkajian Askep Parkinson
- Keluhan Utama: sulit menggerakkan
tubuh, otot kaku dan lemah, tremor, dan refleks hilang.
- Riwayat Kesehatan: mengkaji
riwayat penyakit terdahulu dan riwayat kesehatan keluarga untuk
mengidentifikasi apakah ada komplikasi penyakit sebelumnya (diabetes,
hipertensi, penyakit jantung, anemia, dsb) yang berpotensi menyebabkan Parkinson
atau mempercepat progesivitasnya.
- Psiko-socio-spiritual: mendeteksi
apakah muncul perilaku atau emosi yang berbeda dari biasanya sebagai respon
dari penyakit ini. Misalnya, apakah penderita mengalami stress, ketakutan, penurunan
peran sosial, mudah lupa dan sulit berpikir secara cepat, atau bahkan mengalami
perubahan kepribadian.
- Keadaan Umum: pada sistem
pernafasan perlu diperiksa apakah telah terjadi hipoventilasi. Sedangkan pada
sistem peredaran darah perlu diketahui apakah terjadi hipotensi. Selain itu, diperiksa apakah penderita mengalami
penurunan kesadaran.
H. Masalah Umum dan Intervensi
Keperawatan Parkinson
Hambatan Pergerakan Fisik:
diakibatkan oleh otot yang kaku dan lemah sehingga sulit untuk digerakkan.
Intervensi:
- Mengkaji kemampuan motorik dan
tingkat kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas fisik.
- Terapi fisik untuk melatih otot
yang sudah lama tidak bergerak agar kembali bekerja normal.
- Melatih berjalan dengan tegak dan
pandangan lurus ke depan. Latihan ini dapat dilakukan dengan atau tanpa ketukan
musik. Di saat yang bersamaan, penderita dapat melatih otot pernafasan.
- Istirahat yang cukup dan
merelaksasi otot dengan mandi air hangat sambil memijat otot yang sebelumnya
telah digunakan dalam latihan fisik.
Penurunan Kemandirian: penderita
menjadi tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena fisiknya sudah lemah dan terlanjur
memiliki ketergantungan yang tinggi pada bantuan orang lain.
Intervensi:
- Memotivasi penderita untuk dapat melakukan
keperluan pribadi sehari-hari, semampu mungkin, walaupun aktivitasnnya sederhana.
Bergerak akan menambah semangat mereka.
- Tetap dampingi penderita dari
dekat untuk memberikan dukungan psikis atau sekali waktu membantu secara fisik
jika memang penderita memerlukannya.
- Memberi pagar di dekat tampat
tidurnya untuk melatih penderita bangun dari tidur, duduk, berdiri, dan memulai
berjalan.
Hambatan Komunikasi: kesulitan berkomunikasi karena produksi suara terganggu (volume lemah dan bicara lambat), ekspresi wajah yang terbatas, dan melambatnya pengolahan informasi yang didapat dari lawan bicaranya.
Intervensi:
- Mengkaji tingkat kemampuan
penderita dalam menyampaikan ataupun menerima informasi.
- Menerapkan bentuk komunikasi alternatif
seperti komunikasi dengan bahasa isyarat seperti kontak mata dan gerak tubuh.
Dapat juga dengan memberi pertanyaan yang mudah dijawab: Ya atau Tidak. Selain
itu, komunikasi dapat dilakukan dengan tulisan di kertas atau papan tulis.
- Meletakkan bel pemanggil yang
dapat dijangkau dengan mudah. Bel ini dapat dibunyikan pada saat penderita
membutuhkan bantuan segera dari tim medis.
- Bekerja sama dengan keluarga
penderita untuk menyampaikan informasi tentang Parkinson dengan cara yang mudah
dimengerti dan disesuaikan dengan kemampuan penderita dalam menerima informasi
tersebut.
- Berkolaborasi dengan ahli wicara
untuk melatih penderita supaya kemampuan komunikasinya dapat kembali normal,
setidaknya bisa melakukan pembicaraan yang efektif.
Demikian pemaparan Asuhan Keperawatan atau Askep Parkinson.
Semoga bermanfaat dan silakan memberikan saran membangun terutama bagi Anda
yang mempunyai kompetensi profesional di bidang ini. Terimakasih.